Rabu, 24 April 2013
Mati Suri
Jumat, 31 Oktober 2008
Cinta itu gila

Malam ini, aku menyayat pergelangan tanganku. Perihnya tak tertahan ketika perlahan cairan merah itu menetes dan mengenai jemari kakiku. Ternyata aku masih merasakan sakit ini, artinya aku masih waras. Malam ini, aku takut menjadi gila, tapi malam ini aku tidak takut mati.
Malam ini kekasihku marah padaku, aku menjadi terlalu menyebalkan baginya. Mungkin memang benar, seharian ini aku hanya membuatnya susah, terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan dan kekasihku memang sudah sepantasnya marah.
Setiap kata yang terucap dari bibir kekasihku malam ini terasa seperti silet yang menyayat nyayat buluh jantungku, membuatku sesak. Tidakkah dia mengerti bahwa setiap kali dia marah, setiap kali dia berkata tentang semua kesalahanku, separuh jiwaku seakan terenggut dari ragaku? Tidakkah dia mengerti, betapa takutnya aku kehilangan dia? Tidakkah dia mengerti bahwa tak ada satupun kata di bumi ini yang dapat mengungkapkan rasaku padanya.
Separuh hatiku, separuh jiwaku, separuh nafasku adalah miliknya. Ketika dia tidak menginginkannya lagi, masih sanggupkah aku bertahan untuk tidak ingin mati ?
Maafkan aku jika rasa ini terlalu besar, maafkan aku jika aku tidak bisa hidup tanpamu, maafkan aku jika caraku mencintaimu adalah salah. Mungkin, aku hanyalah perempuan gila yang mencoba mencinta atau mungkin aku hanyalah perempuan bodoh yang gila karena cinta.
Brie, sendiri.
Di tengah malam yang paling malam
...mencoba tetap bernafas tanpamu....
And I could list a million things that i would do for you
But they could all come down to one reason
I could never live without you..
Selasa, 28 Oktober 2008
Broken Heart is always SUCK!!
Malam ini aku marah entah kepada siapa, malam ini aku sedih entah karena apa. Malam ini memihakku, karena hujan turun seperti air bah yang tertumpah dari mulut langit, sehingga tidak ada mahluk di semesta raya ini yang bisa melihat wajahku basah karena air mata, semua mahluk itu hanya akan tau bahwa aku basah karena hujan.Entah sejak kapan aku tidak pernah suka jika ada yang melihatku menangis, aku ingin dunia tau bahwa aku bukanlah perempuan cengeng.
Samar, aku dapat melihatnya. Gedung itu berdiri dengan megah dan sedikit sombong. Ialah gedung yang seumur hidupku menjadi tempat untuk mengadu, bersembunyi atau sekedar bercerita dan kemudian duduk diam berjam-jam, mencoba membaca dan mereka masa depan.
Dengan sopan aku melangkah masuk. Dalam keadaan apapun, aku harus tetap waras dan sadar bahwa temapat agung ini haruslah dihormati. Kita tidak boleh bertingkah kurang ajar di tempat seagung ini. Kusesali air yang terus menetes dari bajuku karena membuat setiap lantai yang aku pijak menjadi basah. Maafkan aku, batinku karena telah membuat tempat suci ini menjadi basah dan kotor.
Lalu aku bersimpuh.
Kali ini aku tidak ingin mengadu, aku tidak ingin bercerita, aku hanya ingin berjanji bahwa bait demi bait doa itu tak kan pernah lagi aku lafaskan, bahwa lembar demi lembar kertas berisi tulisan nan suci itu tak kan pernah lagi aku baca dan bahwa, tempat agung ini tak kan aku sambangi lagi.
Di sini, di depan mimbar suci ini, ku tanggalkan agamaku.
Biarlah seisi dunia menghujatku, aku tidak akan perduli. Bagiku, agama bukan Tuhan. Ya. Aku tanggalkan agamaku tapi tidak Tuhanku.
Lima jam yang lalu aku berhenti memahami arti agama, lima jam yang lalu aku membenci kata berejakan a-ga-ma karena lima jam yang lalu aku patah hati, karena lima jam yang lalu kekasihku datang kepadaku dalam derai hujan hanya untuk berkata bahwa dia mencintaiku (seperti aku mencintainya) dan bahwa dia harus pergi meninggalkanku karena agama.
Namaku Brie,
Agamaku cinta,
Kekasihku Tuhan.
Tengah Malam,
Di antara seribu hujan,
...mengenang mantan kekasih yang selalu mencintai..
Hanya sekelumit ungkapan protes dari sudut imajinasi yang tengah muak dengan perbedaan yang lancang mengatasnamakan Tuhan.